Ghazi Azhari Daffa Az-zharif: Mengendarai Hati

Posted by media itsar | Posted in




Setiap catatan yang saya buat, sebenarnya tak lepas dari berbagai inspirasi yang selalu diberikan oleh lingkungan kepada saya. Inspirasi yang selalu berpasangan dengan hikmah itu masuk lewat telinga, mata atau alat indra pemberian Allah yang lain, lalu saya coba memprosesnya dalam hati untuk memisahkan kesatuan inspirasi dan hikmah itu. Inspirasi coba saya bentuk dan simpan dalam memori pengalaman, dan hikmah coba saya bentuk menjadi sebuah pelajaran. Sehingga tiap hikmah yang sesekali muncul lewat perantara saya, itu semua takkan lepas dari teman-teman sekalian, kejadian-kejadian yang saya alami, kelebihan-kelebihan sahabat yang saya teladani, dari lingkungan dan semuanya berujung pada kehendak Allah SWT yang menakdirkan dan mempertemukan saya dengan banyak kesatuan Inspirasi-Hikmah yang Ia sebarkan lewat berbagai macam perantara lingkungan.

***


Alif : “Hmm, pengen nanya nih. Boleh kan? Gini nih, Akh, hal-hal apa yang membuat kau bisa seneng atau bahagia?

Ahmad : “Hmm, apa yah.. Kalo saya sih, ketika saya bisa ketemu ama orang tua yang ada di luar kota pas ngejenguk saya ke Bandung, ketika saya dapet nilai bagus, terus kalo saya punya sahabat sepertimu, dan satu lagi ketika saya shalat. Itu kayaknya mah yang ngebuat saya bisa bahagia.”

Alif : “Wah, iya yah. Hmm, terus pengen nanya lagi nih Mad. Kalo hal yang bisa ngebuat kamu kecewa, sedih atau menyesal apa?”

Ahmad : “Ini banyak lif, saya tuh suka menyesal kalo nilai saya lagi jelek dan banyak remed, suka sedih kalo misal dapet kabar buruk untuk temen saya, suka kecewa kalo saya ketiduran pas lagi belajar atau melaksanakan kegiatan, atau ngeliat temen-temen saya yang masih pada melakukan hal yang lebih banyak sia-sianya, terus kalo kelupaan baca Al-qur’an.”

Alif : “Hhe, banyak banget mad. Tapi bagusnya dirimu masih menyisipkan shalat dan Al-qur’an sebagai penentu bahagia dan sedihmu. Nah, pertanyaan terakhir nih Mad. Kalo hal yang kadang-kadang bisa ngebuat kamu bahagia, tapi bisa juga ngebuat kamu bersedih secara sekaligus akh?

Ahmad : “Hmm …”

Alif : “Ada akh?”

Ahmad : “Apa yah lif… gatau ahh.. emang ada yah yang bisa buat kita bahagia tapi bisa juga buat kita sedih sekaligus?”

Alif : “Makanya saya nanya juga mad, pasti ada, hhe”

Ahmad : “Apa yah?? Hmm, taluk deh lif, gatau..”

Alif : “Yang bisa membuat kita bahagia dan yang bisa ngebuat kita bersedih, adalah hati, saudaraku.”

Alif : “Sehingga pada akhirnya yang dapat menentukan kita bahagia dan bersedih, hanyalah sekerat daging dalam jiwa kita yang apabila isinya baik, maka akan baik pula keseluruhan hidup kita, dan ketika kita mengisinya dengan keburukan, maka akan buruk pula keseluruhan hidup kita. Sekerat daging itu bernama hati.

Hati yang bisa mengendalikan seluruh emosi kita untuk berlaku bahagia atau bersedih. Ketika lingkungan berlaku kasar dan keras sehingga pada umumnya akan membuat kita bersedih, maka hatilah yang membuat kekasaran dan kekerasan itu menjadi halus dan membahagiakan diri. Juga ketika lingkungan menyampaikan banyak nikmat Allah lewat berbagai hal akh, hati lah yang bisa mengeras dan membuat kita tidak mensyukuri apa-apa yang diberikan olehNya. Ini yang membuat kita banyak bersedih.

Sehingga, apaapun akh.. kalo kita bisa menerimanya dengan hati yang bisa mengendalikan lingkungan dan selalu mengondisikan diri untuk bahagia, tentu segalanya akan terasa indah dalam diri ini. Seperti Rasulullah SAW yang dilempari kotoran oleh penduduk kota ketika tiba di thaif, beliau pasti sudah menerima tawaran Jibril untuk menindihkan gunung besar tepat ke penduduk-penduduk kota yang melempar kotoran dan penghinaan itu apabila beliau tidak banyak mengendalikan hatinya. Namun apa yang dilakukan beliau? Rasulullah SAW malah melarang Jibril untuk melakukan itu dan berkata tidak kepada Jibril karena boleh jadi keturunan, anak cucu mereka suatu saat bisa menjadi seseorang yang dekat dengan Allah dan menegakkan agama Islam. Itu semua tidak lain dan tidak bukan karena pengendalian hati yang dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk menghadapi lingkungan yang boleh jadi kita menganggapnya sebagai lingkungan yang tidak berlaku adil! Tapi Rasulullah SAW lah yang menegakkan keadilan di dalam hatinya.

Jangan salahkan lingkungan perihal kesedihan dan kebahagian kita akh, tapi coba pertanyakan hati kita, bagaimana cara menghadapinya, bagaimana cara mengolahnya sehingga lingkungan itu bisa diterima menjadi sebuah kebahagiaan ataukah menjadi sebuah kesedihan.

Kendarailah hati sebaik mungkin, jangan salahkan jalanan yang dipijaknya. Seperti seorang nahkoda yang mengendarai kapal pesiar besar, jangan salahkan gelombang ombak yang tinggi menghadang, tapi keahlian nahkoda untuk mengendarai kapalnya hingga tak jatuh tenggelam.”



(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS : Ali-imran : 153)



Ghazi Azhari S
Bandung, 2 Mei 2010 (07:12)

Anda juga mungkin suka tulisan ini



Widget by Hoctro | Jack Book

Comments (0)

Posting Komentar

Berikan komentar anda disini JIKA Facebook Comment System tidak bekerja sebagaimana mestinya. Pada pilihan [Beri komentar sebagai] Pilih "Name/Url" jika ingin berkomentar dengan mencantumkan nama anda.